Cegah Penyakit Masyarakat, Niniak Mamak Terapkan Aturan Tegas

Cegah Penyakit Masyarakat, Niniak Mamak Terapkan Aturan Tegas

Agam, Sumbartodaynews.com – Maraknya biduan sawer di bagian wilayah Kabupaten Agam, Sumatera Barat membuat geram masyarakat, satu dari sekian banyak penyakit masyarakat ini kerap muncul dalam acara orgen tunggal yang dilaksanakan hingga larut malam.

Khawatir akan fenomena tersebut Niniak Mamak dan pemerintah Nagari di Kecamatan Lubuak Basuang menyusun peraturan Nagari mengenai aktifitas hiburan yang berpotensi kearah maksiat tersebut.

Helmon Datuak Hitam salah seorang Niniak Mamak Nagari Lubuak Basuang secara tegas mengatakan, orgen tunggal bukan cerminan budaya Minangkabau yang berpedoman teguh pada falsafah Adaik Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah. Selain mengganggu waktu istirahat, aktivitas tersebut banyak melanggar aturan dan norma yang berlaku ditengah masyarakat.

“Saat acara hiburan malam seperti orgen tunggal, laki-laki dan perempuan berkumpul di satu titik lokasi, belum lagi saat tengah malam, ada saja biduan sawer yang datang entah dari mana, lalu berjoget ria bersama kaum laki-laki,” katanya saat berbincang dengan media Senin (26/9).

Tidak hanya itu, aktivitas tersebut bisa menjadi perbuatan asusila dengan jumlah bayaran yang sudah disepakati. Hal ini di perparah dengan peredaran bebas minuman keras membuat potensi maksiat semakin terbuka lebar.

“Kalau sudah mabuk, rentan terjadi perkelahian, jika ini terjadi siapa yang bertanggung jawab,” geramnya.

Lebih lanjut beliau mengatakan, fenomena ini sangat tidak mencerminkan budaya Minangkabau, laki-laki dan perempuan bercampur baur serta menari tidak senonoh jelas hal ini sangat bertentangan dengan norma adat dan agama.

Dalam upaya pemberantasan penyakit masyarakat, Niniak Mamak dan Nagari tidak sendirian hal ini mendapat respon positif dari Pemda Agam. Pemda mengapresiasi hal ini dengan aksi cepat tanggap Satpol PP dalam melakukan penertiban, hingga mengamankan beberapa orang.

Datuak Rangkayo Tan Pahlawan Niniak Mamak Nagari Garagahan membenarkan hal tersebut,  dia mengatakan keresahan yang sama juga dirasakan di Nagari tertua di Ranah Agam Baruah tersebut.

Dia berpendapat bahwa segala jenis penyakit masyarakat bisa dicegah dengan cara membatasi kegiatan hiburan malam.

“Potensi penyakit masyarakat bisa dicegah dengan memberi batas waktu hiburan. Biasanya aktifitas hiburan yang memicu penyakit masyarakat terjadi  setelah lewat pukul 00.00 Wib,” terangnya.

Saat ini jelasnya, Niniak Mamak, Bamus dan Pemerintah Nagari Garagahan telah menetapkan peraturan nagari lengkap dengan sangsi bagi yang melanggar. Aturan tersebut sudah selesai dirancang dan dalam tahap sosialisasi dan sudah bisa diterapkan dalam dalam waktu dekat, katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, peraturan ini berupa pembatasan waktu hiburan malam paling lambat hingga pukul 00.00 WIB. Serta sangsi yang diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab.

“Bagi  yang melanggar aturan tersebut, Niniak Mamak akan memanggil Mamak Pusako yang bersangkutan. Pelanggar akan dikenai denda sebanyak 8 Mas atau jika diuangkan sekitar 16 juta rupiah. 6 Juta untuk Nagari dan 10 juta untuk KAN (Karapatan Adat Nagari), dan Jika yang bersangkutan tidak membaya, seluruh kegiatan adminitrasi yang melibatkan Niniak Mamak tidak akan dilayani,” tegasnya.

Ditambahkannya, aturan tersebut tidak akan berjalan tanpa dukungan seluruh element masyarakat. Dihimbaukan kepada Mamak maupun orang tua agar senantiasa mengingatkan keluarga dan memberikan pemahaman tentang nilai norma adat dan agama.

(*)

Bagikan

Tinggalkan Balasan